by elkace

PLTMH Leuwi Kiara Raih ”Asean Energy”
Dari Air Sungai, Warga Nikmati Listrik
BAGI warga Kampung Citalahab, Desa Nagrog, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya, sebelumnya tak membayangkan mereka bisa menikmati terang-benderangnya lampu listrik. Apalagi hidup mewah ala orang kota yang segalanya serba elektrik. Mengapa? Maklum saja, karena kampung itu terletak di antara perbukitan, PLN sendiri belum berani “mengambil risiko” membentangkan kawat tembaga dan membuat jaringan listrik ke sana. Saking terisolasinya Citalahab, sampai-sampai kampung itu pada zaman Orba mendapat “anugerah” sebagai daerah dengan katagori IDT, alias desa tertinggal. Bagi warga Citalahab, bisa menikmati penerangan listrik hanyalah mimpi.


KEPALA Desa Nagrog Soleh Nugraha bersama Abdul Karim memperlihatkan proses kerja PLTMH Leuwi Kiara Kampung Citalahab Desa Nagrog Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya yang mendapat penghargaan ASEAN Energy dari Dirjen LPE.*YEDI S/”PR”

Namun, sejak Januari 2004, seperti sebuah sulap dan mukjizat, tiba-tiba saja lampu penerangan dengan sumber energi dari listrik menerangi Kampung Citalahab. Lantas, dari mana listrik itu berasal, sementara tak satu pun jaringan PLN masuk ke daerah itu? Listrik yang mereka nikmati memang bukan hasil sumbangan PLN. Melainkan diperoleh atas hasil kerja keras dan kreativitas warganya sendiri yang mampu menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Leuwi Kiara. Tak tanggung-tanggung, PLTMH Leuwi Kiara, bukan saja mampu memberi “berkah” tersendiri bagi warga kampung yang sudah sekian tahun mendamba penerangan listrik. Pada saat yang sama, atas prestasinya itu, PLTMH Leuwi Kiara juga mendapat penghargaan dari ASEAN Energy dari Dirjen LPE. Di manakah letak Kampung Citalahab?

Secara geografis, Citalahab terletak di perbatasan dua kecamatan, Cipatujah dan Bojonggambir. Keduanya masuk wilayah Kab. Tasikmalaya. Kampung itu terisolisasi dan dikelilingi perbukitan terjal. Dari Kota Tasik, jaraknya sekira 90 km ke arah Cipatujah. Karena medan jalan yang berat, waktu tempuh kendaraan bisa mencapai empat jam. Sedangkan dari Bandung, waktu tempuh bisa mencapai enam jam.

Tidak sembarang kendaraan bisa melalui medan menuju Citalahab. Hanya kendaraan roda empat jenis tertentu yang bisa diandalkan, khususnya jeep. Begitu juga saat rombongan wartawan Pokja PLN Distribusi Jabar dan Banten berkunjung ke lokasi tersebut, Jumat (30/7), mulai di Karangnunggal harus menggunakan jeep. Dari Karangnunggal yang menuju arah Cipatujah, lalu belok ke arah kanan menuju perkebunan Bagjanegara VIII. Jalan yang dilewati–seperti umumnya jalan perkebunan– berbatu campur tanah, naik turun dengan sudut kemiringan yang terjal, sehingga pengendara dituntut berhati-hati.

Dengan kondisi medan jalan seperti itu, bagi yang baru pertama kali ke lokasi tersebut, dipastikan akan merasa lelah dan tegang. Apalagi saat masuk ke areal Perhutani yang gundul dan ditanami pohon pisang oleh warga, kendaraan seperti memasuki medan off road yang penuh rintangan dan jebakan. Kepala sering terbentur dinding kendaraan. “Kalau wanita hamil dibawa ke sini, bisa melahirkan sebelum waktunya,” ungkap seorang pegawai PLN sambil tersenyum. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dari Karangnunggal, barulah sampai di Kampung Citalahab.

* *

MEDAN terjal dan letak geografis yang tidak menguntungkan menjadikan Citalahab tidak terjangkau jaringan PLN. Bahkan Humas PLN Jabar dan Banten, G. Wisnu, berkata, “PLN tidak mungkin menjangkau kampung ini karena medannya berat.”

Satu-satunya cara untuk memberikan penerangan adalah dengan membuat pembangkit aliran listrik sendiri, seperti dilakukan warga Citalahab. Seorang tokoh yang juga Ketua Pengelola PLTHM Leuwi Kiara, Abdul Karim mengungkapkan, awal dibangunnya pembangkit listrik tenaga mikrihidro ini, karena didasari oleh kuatnya kebutuhan masyarakat akan listrik. “Warga di sini terisolasi dan sudah lama hidup dalam kegelapan, namun kami punya tekad untuk mengubahnya,” katanya.

Melalui prakarsa Abdul Karim dan saran aparat Kec. Cipatujah, keinginan masyarakat diwujudkan dalam satu naskah proposal yang diajukan ke Dinas Pertambangan, Mei 2003. Dua minggu kemudian datang pengontrolan hingga akhirnya Oktober 2003, PLTMH Leuwi Kiara dibangun dan selesai Desember 2004. Sebulan kemudian, persisnya 1 Januari 2004, warga Citalahab bisa menikmati listrik sebagaimana layaknya warga negara lainnya.

“Sebelumnya tidak tahu, siapa yang memberi bantuan. Setelah dipanggil menghadap Gubernur Jabar, untuk menerima penghargaan ASEAN Energy bersama Kades Nagrog, Saleh Nugraha, Selasa (20/7), akhirnya tahu kalau bantuan itu datang dari Pak Gubernur melalui Dinas Pertambangan Provinsi Jawa Barat,” ungkap Abdul Karim soal bantuan sebesar Rp 300 juta yang diterimanya guna membangun PLTMH Leuwi Kiara.

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya di tempat yang sama dibuatkan kincir pembangkit oleh ITB, namun tidak bisa berlangsung lama dan hanya kuat bertahan selama tujuh bulan. “Sementara pembangkit sekarang diperkirakan umurnya bisa puluhan tahun dan buktinya sekarang belum ada kerusakan apa-apa,” katanya.

PLTHM Leuwi Kiara dibangun dengan teknologi sederhana, melalui pemanfaatan air sungai, serta dibangunnya satu bangunan kecil sebagai pembangkit. Teknologi penggerak yang dipakai mirip turbin berdiameter 2,5 meter dan mempunyai lima sirip dengan putaran menyerupai kipas. Kemudian dari bendungan disalurkan ke sebuah pipa besar sebagai pembuangan. Dari putaran mirip turbin, kemudian disambung melalui karet ke dinamo hingga menghasilkan energi listrik.

Dari pembangkit itu, dapat menghasilkan energi listrik 15.000 watt. Melalui 53 tiang besi dan kabel seperti yang digunakan PLN, aliran energi listrik disalurkan ke 101 rumah di Kampung Citalahab. Kabel penghubung ke rumah juga mirip dengan PLN, namun mereka tidak menggunakan meteran, melainkan hanya MCB (mini circuit breaker) saja langsung disambung ke kabel yang menghubungkan ke lampu rumah.

* *

KADES Nagrog, Saleh Nugraha mengungkapkan, dengan adanya listrik, warga Citalahab kini telah bangun dari tidurnya bahkan kehidupan ekonomi warga bisa meningkat secara signifikan sekira 30 persen. “Yang tadinya kuli di daerah lain, kini kembali ke kampungya untuk membangun daerahnya. Tadinya, nyugu(menghaluskan kayu) pakai manual, kini pakai listrik. Menjahit juga pakai listrik, bahkan mengambil air sekarang dengan pompa listrik,” kata Saleh bangga.

Begitu juga dari segi pendidikan, sebelumnya murid tidak bisa menghafal atau belajar malam. Kini, dengan leluasa bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya karena ada penerangan listrik. Juga sektor lainnya seperti hiburan, warga Citalahab bisa menikmati radio dan televisi. “Apalagi kalau didukung jalan, pertumbuhan ekonomi akan lebih menggeliat. Memang listrik menjadi sesuatu yang penting, namun paling utama meningkatkan perekonomian masyarakat adalah jalan, makanya kami minta kepada pemerintah, jalan menuju Nagrog segera dibangun,” pinta Saleh penuh harap. Adakah pembangunan jalan juga masih sebatas mimpi bagi warga Citalahab? Ataukah seperti dalam mewujudkan impian tentang listrik, mereka harus kerja keras sendiri, membangun sendiri, untuk kemudian mendapat penghargaan? Ah, kalau begitu, naif sekali pemerintah.(Yedi S/”PR)http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0804/03/0106.htm

About these ads